Dolar AS bergerak menguat terhadap euro dan mata uang negara eksportir banyak mengalami tekanan penjualan pada Rabu (19/02) pagi. Tren mata uang ini di kala investor menilai kejatuhan ekonomi akibat virus covid-19 semakin dalam.
Menurut laporan yang dilansir Reuters Rabu (19/02) pagi, virus covid-19 telah memakan korban jiwa sebanyak 2.004 orang di Cina dan menginfeksi lebih dari 74.000 orang, sementara langkah-langkah untuk menahan penyebaran virus telah melumpuhkan perekonomian dan juga rantai pasokan.
Apple Inc telah mengeluarkan peringatan bahwa mungkin tidak akan mencapai target penjualan pada kuartal Maret di tengah terganggunya produksi dan kebiasaan berbelanja orang.
Kurva imbal hasil terbalik semalam antara obligasi AS bertenor tiga bulan dan obligasi 10 tahun, sinyal ekonomi bearish, dan kepercayaan investor Jerman jatuh merosot ketika ekonomi kawasan mandek telah memberi tekanan pada mata uang euro EUR/USD lebih murah dari $1,08 untuk pertama kalinya sejak 2017.
Terhadap sejumlah mata uang, dolar AS berada di posisi tertinggi empat bulan di 99,452. Dolar AS USD/AUD menyentuh tingkat tertinggi satu minggu terhadap dolar Australia dan Selandia Baru semalam. Krone Norwegia, mata uang yang peka terhadap prospek pertumbuhan global melalui ekspor minyak, telah jatuh 6% pada tahun 2020 dan anjlok ke level terendah 18 tahun semalam.
Euro telah turun 3,7% di tengah meningkatnya tanda-tanda perbedaan pertumbuhan antara ekonomi Eropa dan AS. Euro terakhir naik di $1,0796 dan bergerak stabil pada perdagangan pagi ini.
Yuan Cina bertahan stabil di level 7,717 per dolar pada perdagangan luar negeri.